Aku Rumput yang Tumbuh Menjadi Oak

Terimakasih Tuhan, telah mengizinkan aku menikmati surya mu sampai saat ini. Terimakasih untuk segala kesempatan menikmati setiap hembusan angin, tetesan air, udara, tanah, matahari, dan segala yang kau cipta untuk ku sentuh untukku raba dan untuk ku miliki.

 

Aku masih seperti rumput kecil yang tumbuh mengejar mentari. Bergoyang di terpa angin, terbaring diinjak-injak, hingga kering terbakar. Tapi aku rumput kecil yang kembali hijau, dan kembali tumbuh menentang angin. Tak bosan terbakar, dan bangkit dari patah ku.

 

Duapuluh satu tahun aku menempati surga kecil mu ini. Di antara malaikat yang menjelma menjadi orang tua ku, menjelma jadi teman-teman ku, di antara nikmatnya kasih sayang. Aku di hapit kerinduan dan kebencian yang mengajarkan aku bertahan untuk terus bangkit dari roboh ku. Untuk terus hidup di antara baik dan buruknya takdir.

 

Sampai saat ini ketika hari berganti dan umurku bertambah satu. Engkau masih membimbingku menjadi manusia tegar atas coba’an yang kau beri. Menjadi manusia yang berpikir dewasa atas ujian yang kau kasi.

 

Andai aku boleh memohon lebih banyak dari pada dosa ku. Aku hanya akan meminta, Tuhan hapuskan segala dosa ku semasa hidup hingga aku mati. Hapuskan dosa ke dua orang tua ku semasa mereka hidup hingga mereka mati. Hapuskan dosa keluarga-keluarga ku semasa mereka hidup hingga mereka mati. Dan berilah kami kebahagiaan dalam ridhoMu semasa kami hidup dan setelah kami mati. Satu kan kami setelah kami mati dalam indahnya surga MU, berkahi setiap langkah kami dengan izinmu. Dan ingatkan kami dari dosa ketika kami ingat ataupun lupa.

 

Aku rumput kecil yang mencoba menjadi pohon oak yang lebih tinggi. Izinkan rumput kecil ini tumbuh hingga menjadi oak, dan mentang angin. Bimbing aku dengan uji Mu, tegarkan aku dengan coba Mu. Jadi kan aku mendekati sempurna dengan iman Mu.

 

Di hari ini ketika usia ku resmi dua puluh satu tahun. Terimasih atas segala kenikmatan, keindahan, kesehatan, kebahagian, kesusahan yang Kau beri untuk menguatkan aku. Terimakasih TUHAN.

 

oak Bukan Keladi

Aku bosan, mendengar mu ya hanya mendengar mu.

Aku benci, benci harus selalu menjadi pendengar,

Keluh mu, kesah mu, menjadi tumbal untuk lelah mu

Menjadi budak di Istana reot mu.

 

Aku juga ingin kau dengar, sepatah kata saja dari ku.

Aku ingin kau melihat, sedikit saja diriku

Aku lelah, sudah, segenap jiwa ku habis bersabar.

Tinggal sisa-sisa sabar dari batas pengetian yg tersisa.

 

Tuhan kan saja nominal-nominal itu.

Yang tak bisa membeli semua.

Bahkan dengannya saja kau tak mengerti rasa.

Bagaimana bisa kau mengerti manusia,

 

Aku takut hidup dalam ketakutan, tapi aku sudah terbiasa bersama gelap.

Aku benci diam, tapi aku juga suka diam.

Sudah cukup aku mengalah, tapi aku tak kalah.

Aku Oak yg tinggi, bukan bukan keladi.