Resign

Hari ini terasa sedikit berbeda, pagi hari begitu cerah dan siangpun mentari masih gagah memamerkan sinarnya ke penjuru kota. Namun tiba-tiba di sore harinya tak ada jingga ku dapati di ufuk barat, setelah gelap menyergap dan angin kencang menderu. Lantas tumpahan rahmat dari angkasa yang turun membasahi bumi perlahan, namun pasti. Ku ketahui rahmat itu tak turun merata, hanyaa sebagian saja yang menyicipinya. Mungkin awan sedang enggan mengguyur manusia lebih lama dengan air nya. 

Resign...

Status BBM ku, bukan tanpa sebab aku membuatnya..
Lembaran-demi lembaran yang ku bolak-balik setelah ku baca, menguatkan hati ku menulisnya.
Sudah lama ku simpan dalam draf kata itu, berharap tak secepat ini ku publish ke media
ah, seperti orang penting saja diri ku.
Tapi hari ini kata itu adalah awal dari langkah yang harus ku lakukan,
Setelah semua tak lagi indah seperti yang ku bayangkan dulu.

Meskipun atap mampu meneduhkan ku dari hujan, 
tapi sekat membuat ku harus merasa resah berhimpit pada yang lain,
mengamankan diriku agar tak basah ajaa sulit, apa lagi aku harus meneduhkan mu..
Sendiri mungkin bagi ku cukup berteduh di bawah naungan atap ini, tapi berdua.
Aku butuh tempat yang setidaknya cukup untuk kita berdua.

Mungkin kah aku terlalu realistis atas hidup ku saat ini.
Apakah ini sudah saatnya aku serius membuat jalan ke masa depan ku.
sendiri mungkin ku nyaman tapi tak selamanya aku sendiri.
bagaimana nanti membangun istana jika pasir saja aku tak punya,
Mungkinkah aku mesti keluar dari nyaman k, berhenti berteduh pada kecukupan sendiri saja dan mulai memikirkan mencukupi masa depan ku.

Resign,... Kata ini mungkin akan segera terangkai dalam surat ku.
Surat resmi yang akan ku tujukan pada atasan ku,
Sebab aku bukan lah seperti aku yang pertama kali datang mengantarkan lamaran dan berdialog seperti dulu.
Ketika pertama kali datang dulu yang ku ingin adalah pengalaman dan pelajaran. 
Tapi kini, aku datang dengan perhitungan matang, setelah sekian lama aku menjadi bagian dari satu kesatuan perusahaan yang ku katakan tak ramah pada karyawan. 
Kita tak bicara soal personal, tapi tentang managerial yang gagal.
Aku tau sebab aku punya pengalaman untuk itu.
Ketika tanggung jawab bertambah, kenyamanan berkurang dan pemasukan tak lagi dirasa memadai
maka tuliskan kata Resign pada surat mu, dan tunjukan pada atas mu.
Mungkin itu akan lebih baik dari pada kamu terus bertahan setengah hati pada kondisi yang tak menentu.

Aku masih percaya, ketika Tuhan menutup satu pintu rezeki.
maka sesunguhnya Ia telah membuka banyak pintu rezeki yang lainya. 
Bahkan ia sendiri telah menjamin rizki buat seluruh umatnya,.
Hanya saja kita mau atau tidak untuk masuk ke dalam pintu rezki yang telah ia buka kan..

Sebenarnya aku tak harus menulis kata Resign pada surat ku,
andai saja mereka mau sedikit realistis atas apa yang mereka beri terhadap apa yang ku butuhkan.
hahaha.. Aku mungkin sekarang sedikit matre ya..
sebab nantinya wanita ku tak ingin hanya makan nasi dan garam saja..
dan aku pun tak ingin hanya ada teh tanpa gula di pagi hari yang cerah.

READMORE
 

Ironi Negeri Gemah Ripah

Seperti hari-hari biasanya, lelaki tua yang berumur antara 60-70 tahun itu datang ketempat ku kerja. Seperti biasanya pula ia mengenakan celana setinggi lutut, topi serta trash bag ukuran ukuran besar. Ia berjala dari arah barat dengan menarik gerobak warna kuningnya. Lalu langkahnya memasuki pintu kantor ku, security pun bergegas membukanan pintu untuknya, berupaya ramah karena bapak itu juga ramah terhadap kami. Meskipun aku tak tau siapa namanya, dan kebanyakan orang kantor pun tak tau namanya.

Ia berjalan ke gudang belakang menuju tempat sampah yang ada di setiap ruangan, lalu memindahkan isinya kedalam trashbag yang ia bawa. Apa saja yang ada di dalam tempat sampah itu ia masukan. kertas, plastik, botol minuman, dan sampah-sampah lainya. sekiranya ia tak kuat lagi mengangkat trashbag, ia akan menyeret trasbag itu, hingga terdengarlah suara perpaduan antara trashbag dan keramik.

Sebelum pulang ia berhenti untuk mengumpulkan sampah dari 3 tempat sampah yang ada di ruanganan ku. Teman-teman seolah senang ketika bapak itu datang, karena satu masalah terselesaikan dan tempat-tempat sampah pun siap dipenuhkan kembali. Tak lama lelaki tua itu mengumpulkan sampah di kantor ku, lalu ia keluar dan menaruh sampah yang ia kumpulkan di gerobaknya, sama seperti hari-hari sebelumnya.

Tapi hari ini sedikit berbeda, setelah ia keluar dari kantor lantas tak langsung ia beranjak pergi. Tiba-tiba dari balik kaca ku melihat seorang yang lebih muda menghampirinya dengan wajah yang kurang bersahabat. Lelaki yang lebih muda itu datang dengan membawa sepeda motor lengkap dengan dua keranjang di bagian belakang motornya, serta seorang anak kecil duduk di depan. Kulihat dari jauh percakapan sepertinya serius, tapi tak satupun dari kami mencoba menengahi, bahkan security yang berjarak hanya 5 langkah dari dua laki-laki itu terlihat berdiam diri sambil sesekali berbicara pada tukang parkir kantor ku.

Tak satupun kata ku dengar, karena ruangku dan luar tertutup kaca rapat. Dari dalam ku lihat tempo percakapan semakin tinggi, dari tingkah pria yang lebih muda menunjukan bahwa ia sedang marah pada pak tua, tetapi pak tua hanya diam saja, bahasa tubuhnya terlihat sabar dan tenang, namun raut wajahnya ia tampak bingung, mungkin ia sedang mencerna apa yang lelaku muda itu katakan.

Beberapa menit berlalu pak tua pergi meninggalkan lelaki muda itu bersama motor dan anak kecilnya. Kemudian security kantor ku kembali ke dalam kantor, aku pun bertanya apa yang terjadi. Dengan bahsa sederhana security menjawan "Masalah sampah mas,.." aku pun terdiam sejenak dan berpikir..

Apakah dunia semakin edan, di negeri ini untuk mencari yang haram aja sulit apa lagi yang halal. Pekerjaan yang dirasa rendah terkadang menjadi pekerjaan yang justru paling susah di kerjaan. Ironi negeri ku ketika genderang perang capres dan cawapres di tabu, ketika pesta tengah digelar, masih ada tuan rumah yang mengais-ngais hidup dari tempat sampah. Janji mu kini, mungkin akan kau ingkari, karena kau tak kenal siapa kami, semacam mahkluk pelengkap sempurna mu, kau mengingat kami saat kau butuh hak kami, tapi kau lupakan kami ketika kau sudah mendapat hak mu, mereka mengais yang halal dari tempat yang kau bilang haram. Berebut kotoran dari sisa-sia yang kau abaikan, bahkan mereka meregang nyawa karena berebut kotoran yang kau anggap hina.

READMORE
 

Imaji Indonesia Sesi II, Pembakaran Gerabah

Matahari beranjak tinggi, hampir tepat berada di atas kepala. Sinarnya terasa sangat panas ketika langsung berhadapan dengan kulit. Patutlah jika peluh mulai membasahi wajah pada pemilik tubuh yang lelah karena sejak pagi telah mengabadikan aktifitas penduduk membuat gerabah.

Di pasar desa Klipoh yang tak begitu besar, kami segenap panita dan peserta Kontes Foto Imaji Indonesia duduk berteduh di bawah aula desa Klipoh sembari berfoto selfie, bercengkrama, berbagi cerita, ada pula yang sedang sibuk mengutak-atik gadget nya untuk mengupload foto di Google +, dengan hastag #IndonesiaOnly #FotoKita dan #Borobudur sebagai syarat dan ketentuan kontes foto ini.
Peserta Kontes Foto Imaji Indonesia Sedang foto Selfie di Aula Desa Klipoh. Foto | Franz

Sebenarnya kontes foto sesi pertama masih menyisakan waktu 30 menit lagi. Namun sepertinya peserta merasa sudah lelah dan sudah cukup puas mengabadikan proses pembuatan gerabah di desa Klipoh, sehingga beberapa orang dari mereka kembali ke Gallery tanpa sepengetahuan panitia. Alhasil, mempertimbangkan situasi dan kondisi yang terjadi, panitia mengarahkan peserta untuk kembali ke Gallery untuk bersitirahat siang sembari sharing hasil kontes foto sesi pertama dengan photographer senior mas Dwi Oblo atau yang akrab di sapa Pakde.

10.30 susana di Gallery riuh dengan canda serta aktifitas peserta yang tengah beristirahat. Tak lupa sajian makanan ringan yang telah disiapkan oleh pengelola desa wisata Klipoh. Sembari menikmati Bajigur yang katanya makanan tradisional dengan segelas teh atau kopi, perserta saling berbagi pengalaman bersama editor Majalah National Geographic Traveler mas Bayu Dwi, Photographer National Geographic Indonesia mas Yunaidi, serta mas Dwi Oblo. Sharing pun berlangung seru, meskipun menggunakan kamera yang terdapat di smartphone namun peserta mampu menghasilkan ratusan gambar yang menarik.

Selepas makan siang dengan menu sederhana, yaitu ayam goreng, gudangan dan sambel krecek peserta kembali melanjutkan kegiatan. Pemotretan Sesi II. Sesi kedua adalah mengabadikan proses pembakaran gerabah di Desa Klipoh. Proses pembakaran gerabah di desa klipoh ini masih terbilang tradisional, yaitu dengan menggunakan dedaunan kering serta jerami kering.

Jerami Kering yang Digunakan untuk Pembakaran Gerabah. Foto | Franz


Ada dua tahapan pembakaran. Pembakaran pertama dilakukan di lokasi penjemuran dan berlangsung tak lebih dari 10 menit. Proses pembakaran pertama di lakukan di tempat penjemuran gerabah, Pembakaran pertama ini bertujuan agar gerabah yang telah di jemur tidak pecah ketika dibakar dengan suhu tinggi pada proses pembakaran kedua. Proses pembakaran yang kedua dilakukan di tempat pembakaran yang berbentuk seperti gubuk, biasa nya satu tempat permbakaran digunakan oleh 5-7 orang pengerajin gerabah.
Gerabah yang siap untuk dibakar di tempat pembakaran. Foto | Franz

Kepulan asap membumbung tinggi ketika proses pembakaran berlangsung. Hawa panas akibat api yang menyala menjadi hal yang biasa bagi para ibu-ibu yang sebagian besar melakukan proses pembakaran gerabah. Dengan kipas anyaman yang berukuran besar, ibu-ibu paruh baya itu mengipas api agar merata membakar seluruh gerabah. Setelah dibakar tak lantas gerabah ini dapat dijual, gerabah harus didiamkan semalam agar dingin terlebih dahulu, baru lah siap untuk dijual di pasar atau pada tengkulak.

Ibu yang sedang memanaskan gerabah sebelum di masukan ke tempat pembakaran. Foto | Franz


Jerami telah menjadi abu, bara api masih menyala merah di tempat pembakaran. Beberapa peserta sibuk bercengkrama dengan pengerajin gerabah yang sebagian besar tak menguasai Bahasa Indonesia. Sebagian lagi duduk berteduh mengistirahatkan tubuh di tempat teduh. Mungkin karena masih terasa kenyang ditambah lelah membuat aktifikas peserta pada siang hari itu tak seaktif waktu pagi tadi. Sembari leyeh-leyeh mereka mengunggah foto-foto hasil sesi II ini ke Google +.

Gerabah. Foto | Franz


Kami harus bersiap ke Sesi III dan membiarkan gerabah dingin terlebih dahulu di tungkunya, sebab kami tak punya waktu jika harus menunggu esok pagi ketika gerabah benar-benar dingin. Menjelang sore peserta berjalan beriringan menuju ke Bus yang akan membawa mereka ke spot pemotretan sesi III. Tempatnya adalah Candi Mendut yang berjarak sekitar 15 Km dari Desa Klipoh.

Candi Mendut. Magelang, Jawa Tengah. Foto | Franz

Di dalam bus tak banyak suara yang terdengar, peserta lebih banyak berinteraksi dengan gadgetnya untuk memenuhi syarat kontes foto ini. Saya pun membiarkan yang terjadi, sembari mengistirahatkan tubuh yang mulai lelah. saya pun mencoba mengunggah foto-foto dari smartphone saya ...

Uploading....

Anak-anak penduduk Desa Klipoh, Karanganyar, Borobudur yang sedang bermain dengan seekor kambing di daerah persawahan. Foto | Franz

Peringatan "No Climbing" yang artinya dilarang memanjat Candi Mendut. Foto | Franz


Connection Error 404.. haha....
READMORE
 

Imaji Indonesia Sesi I, Pengerajin Gerabah




Pagi itu matahari belum lagi muncul di ufuk timur kota ini. Gelap malam belum lenyap dan dinginnya udara masih mendekap kebanyakan orang untuk terlelap. Tapi tidak dengan kami. Hari itu 7 Juni 2014, saya dan beberapa teman yang mungkin baru saja tidur beberapa jam yang lalu harus bangun dan memaksa tubuh ini bergerak lebih gesit dari pada biasanya. Tak perduli dingin malam mendekap serta kantuk yang masih enggan berpindah.
#IndonesiaOnly dari abu-abu sisa pembakran gerabah

Pukul 03.00 Wib aku bangun dan mengulet sebentar di tempat tidur ku. Rasa malas untuk bergerak ke kamar mandi pun makin erat mendekap, tapi apa daya tugas menanti dan harus diselesaikan hari ini. Nyaman dalam tidur atau melewatkan pengalaman luar biasa hari ini? ahhh aku tak ingin. Oleh karena itu lekas aku bangun dan ku ambil alat mandi, segera ku segarkan diri  dengan air yang dingin sembari berharap kantuk juga turut pergi bersama air yang mengalir.

Tugas ku kali ini adalah menjadi panitia dan pemandu sahabat-sahabat National Geographic Indonesia untuk even Kontes Foto Imaji Indonesia. Roundown acara telah di sepakai bahwa kami berkumpul di Terminal Bus Jombor, Yogyakarta, pukul 04.00 Wib. Karena nantinya pukul 05.00 Wib bus pariwista yang kami gunakan akan segera bertolak menuju Desa Wisata Klipoh, Karangayar, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Tempat kontes Foto Imaji Indonesia itu dilaksanakan.

Satu persatu peserta mulai berdatangan menghampiri kami. Mereka datang dari berbagai latar belakang, berbagai usia, dari yang muda hingga yang tua, dari mahasiswa sampai ibu rumah tangga semua berkumpul dengan wajah yang ceria meskipun hari itu masih hari sabtu dan beberapa di antara mereka terpaksa mengambil cuti untuk event ini termasuk saya. haha

Beberapa menit molor dari jadwal karena kendala teknis, tapi tak menyurutkan semangat kami sebagai panita untuk memberikan yang terbaik pada peserta. Snek pagi yang berisi bolu, lemper kacang serta cemilan pun kami bagi satu persatu kepada peserta sebagai sarapan pagi sembari mengarakan mereka masuk ke dalam bus pariwisata yang siap mengantar kami semua.

Pukul 05.10 bus mulai bergerak perlahan keluar dari terminal dan menjauh dari kota Yogya. "Selamat Pagi dunia," ucapku dalam hati. Bus melaju hingga memasuki kawasan Candi terbesar se Asia ternggara, Borobudur, salah satu dari 9 keajaiban dunia. Tapi bus masih tetap melaju melewati jalan yang tebilang kecil untuk di lewati bus segede gaban itu sehingga ketika berpasan dengan kendaraan lain salah satu dari kendaraan itu harus mengalah dan minggir sepinggir-pinggirnya.

Sesampainya di Desa Klipoh, Karanganyar, Borobudur kami disambut dengan kabut yang masih menyelimuti perbukitan, dari kejauhan mentari tampak bulat sempurna dengan warna yang kuning telur ayam kamung. aargg indahnyaa, di pinggir jalan anak-anak sekolah berjalan berbaris menuju sekolah untuk menuntut ilmu, kehidupan pedesaan pun begitu terasa tak kala hamparan sawah yang kering mulai di garap oleh petani-petani yang tak lagi terlihat muda. "Ini musim kemarau, tapi masih ada saja yang menanam padi di tanah yang mengering," aku berkata lirih pada diriku.

Sawah penduduk desa Klipoh, Karangayar, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah


Laju bus tak semulus wajah manis peserta kontes foto, sebab ukuran bus yang besar menyulitkan bus untuk melewati belokan di jalan kampung, al hasil beberapa menit bus maju mundur mengatur sudut untuk dapat lolos dari persimpangan. Terasa kurang efektif kami selaku panita terpaksa menurunkan peserta lebih jauh dari check point yang awalnya di tentukan. Sungguh luar biasa, tidak ada keluhan dari peserta justru mereka sangat bersemangat berjalan kaki menuju Gallery tempat berkumpul dan pembukaan even Imaji Indonesia. Sambil sesekali peserta memotret aktifitas pagi penduduk sekitar serta pemandangan alam Desa Klipoh.

Di Gallery Editor Majalah National Geographic Traveler, mas Bayu Dwi sudah menanti peserta dan siap untuk membuka kontes foto Imaji Indonesia. Tak berlama-lama karena mempertimbangkan mentari yang kian terik, lagi pula saat itu bukan waktunya mas Bayu untuk sharing, akhirnya peserta pun dilepas untuk memulai berimajinasi dengan mengabadikan aktifitas penduduk sekitar yang berprofesi sebagai pengerajin Gerabah.

Peserta di bagi menjadi 10 kelompok dan masing-masing kelompok di pandu oleh 1 pemandu. Sesi pertama adalah aktifitas pembuatan gerabah oleh masyarat desa Klipoh. Penduduk di Desa klipoh ini sudah membuat grabah sejak beberapa ratus tahun silam, bahkan mungkin sebelum Candi Borobudur di dirikan. Ada relief di Candi Borobudur yang mengambarkan bahwa dahulu kala penduduk disekitar Borobudur telah memulai aktifitas pembuatan gerabah. Uniknya, penduduk sekitar masih menggunakan alat-alat yang sangat sederhana untuk membuat gerabah.

Peserta kontes foto Imaji Indonesia sedang mengabadikan ibu yang sedang menyusun gerabah untuk di bakar. Foto : Frans


Peserta Kontes Foto harus melewati lorong-lorong yang merupakan celah antara rumah penduduk yang masih sangat sederhana. Rumah yang sebagian masih berdinding gedeg dan beberapa rumah yang terbilang sudah permanen. Pagi itu di teras rumah sederhana, para wanita paruh baya sudah memulai aktifitasnya membuat gerabah. Ada yang membuat panci, ada pula yang membuat cobek untuk wadah makan, di lain rumah ada yang membuat kedil tempat ari-ari yang nanti nya akan di kirim ke puskesmas atau rumah sakit. Kendil-kedil itu mereka jual kepenadah dengan harga Rp.2000 rupiah kepada penadah harga yang terbilang sangat murah jika di bandingkan teman-teman membelinya di pasar yang di bandrol dengan harga tak kurang dari Rp.15.000.

Proses penjemuran kendi, sebelum memasuki tahap pembakaran. Foto | Frans

Tangan-tangan trampil mereka telah sangat akrab dengan tanah hingga tanah pun menurut saja mereka bentuk. Namun sayang, bagian dari sejarah yang harusnya di berdayakan harus berakhir kembali menjadi tanah. dan mungkin nanti hilang terhapus modrenisasi dan mungkin pula mereka akan terkenang melalui relief-relief di sisa-sisa peradaban.

Jerami untuk pembakaran gerabah. Foto | Frans







Pengerajin gerabah yang bersiap melakukan proses pembakaran gerabah. Foto | Frans

Cobek.



Bersambung..... 


READMORE
 

Ken Arok dan Ken Dedes

Sebut saja aku Ken ARok, karena aku pun menyebut diriku sendiri begitu.
Mungkin kalian pernah mendengar nama ku, tapi sedikit sekali kalian mendengar akhir ku.
Yang kalian dengar mungkin aku adalah sosok yang dingin, kerjam, serakah,
yaa aku lah Ken Arok yang terkenal karena Empu Gandring dan Ken Dedesnya..

Stop bercerita pada masa lalu ku yang kelam, dan mungkin masa ku yang sekarang juga tak kalah suram
Sejak awal sebenarnyaa sudah dapat ku terka kemana kisah ku akan berakhir, ada tanda yang tak biasa tapi harus tetap aku jalani titah nya. Titen dengan yang terjadi membuat aku memahami setiap petunjuk yang Maha Kuasa berikan. 

Mungkin kelak aku akan menyesal menggunakan nama Ken Arok, sebab kisah cinta nya yang tragis, seperti kisah cinta nya pada Ken Dedes yang kandas. Tapi mungkin aku akan bangga menggunakan nama Ken Arok sebab, kisah cinta nya menurunkan kisah-kisah bersejarah di bumi nusantara. 

Aku, Ken Arok di abad milenium yang becinta pada Ken Dedes di tanah sebrang. Awalnya kisah ini romantis, hingga seluruh penjuru nusantara mengingat nya. tapi lama-lama menjadi tragis, hingga seluruh nusantara bertanya-tanya. 
READMORE
 

Merpati Adek

Percakapan antara seorang ayah dan anak, tentang bagaimana cara menjaga, memelihara dan mencintai.

"Yah, adek ingin memelihara merpati."

"Kan kamu belum ada sangkar, nanti merpati nya mau di kadangkan dimana? di kandang ayam.?"

"yaa, enggak lah yah, ntr merpatinya mati dipatuk ayam. beli'in sangkar burung donk yah, buat merpatinya"

"teruss kalau sudah ada sangkar, merpatinyaa mau diapain.?"

"Dimasukin sangkar, dikasi makan"

"gitu aja?"

"Teruss harus gimana lagi, donk..?'

"Kamu gak kasian sama merpatinyaaa? dikurung gitu, cuma dikasi makan doank. teruss cuma kamu lihatin setiap hari"

"heummmm.... "

"Coba adek ayah masukin kamar, terus kamarnya ayah kunci, nanti waktu makan ayah anterin makan, begitu teruss sampai adek tua, adek mau?'

"ya gak mau lah yah, bosenn, ntr adek gak bisa main lagi donk sama bimo, gak bisa nonton lagi donk, gak sekolah."

"Terus kalau merpatinya adek kurung di sangkar, merpatinya bosen gak? ntr merpatinya gak bisa main lagi sama teman-temannya, gak bisa ketemu sama burung-burung yang lain di alam sana."

"Kan dia hewan yah"

"Hewan itu juga makhluk ciptaan Tuhan, sama kayak adek, dia berhak untuk hidup bebas sama kayak adek.'

"Heumm.."

"Meskipun adek punya merpati, terus rajin dikasi makan, tapi kan kasian merpatinya, dia jadi gak bebas untuk terbang, terus apa gunanya sayapnya, kalau gak bisa dibuat terbang? hayooo... Setiap Mahkluk ciptaan Tuhan itu punya cara hidupnya sendiri-sendiri dek, kita, manusia hidup dengan cara manusia, bekerja, makan, minum, bermain, belajar dengan cara dan sama manusia, begitupun hewan, mereka juga tentu ingin hidup dengan caranya sendiri, bermain dengan sesama jenisnya, berterbangan dengan sayap nya. Jadi semua itu hidup dengan cara masing-masing. Gak ada yang bisa ngatur adek hidup harus seperti merpati, atau seperti bimo, adek juga hidup dengan cara adek sendiri, dengan ilmu yang adek dapat dari sekolah, dari ayah, ibu, dan dari mana pun, selama ilmu itu baik untuk kehidupan adek. Ngertii"

"Ngertii yaah,.. Iyaa jugaa sih yah, kasian merpatinya kalau adek pelihara jadi gak bisa terbang. hemm.. ya udah deh gak jadii..Kalau adek minta beli'in mobil-mobilan, apa mesti ada garasinya dulu yah.."

"Hahahaha,,, ya gak gitu juga kalii dek, kalau cuma mobil-mobilan nanti kan bisa disimpan di dalam kardus, atau dimasukin ke kandang ayam,. hehe. tapi  kalau minta mobil-mobilan ntr ajaaa yaa tunggu ayah gajian.."




READMORE
 

Negeri Prahara

Ini cerita tentang Negeri Prahara. Negeri yang gemah ripah lohjinawi, dengan segala kekayaannya. Alamnya terbanteng luas, bertanah subuh, lautnyaa menghampar biru sebiru langit cerah, banyak pantai berpasir putih membatasi antara daratan dan samudra yang luas. Hutannya lebat terhampar bak permadani hijah begitu luas hingga menjadi paru-paru dunia. Di negeri ini tak ada topan yang berpontensi menghancurkan seperti di Eropa, negeri dengan banyak gunung sebagai penyangga langit. arrhhh Negeri Prahara yang indah tak salah Orang-orang  menyebut negeri ini adalah secuil surga yang jatuh ke Bumi.

Pepatah kuno mengatakan tak ada gading yang tak retak. Tak ada yang sempurna kecuali Yang Maha Satu. Seindah-indahnya Negeri Prahara selalu ada setan yang menjelma bahkan merasuk, merusak, menghasut, menghancurkan. Terdapat retak yang teramat jauh terbentang dari ujung timur hingga ujung barat dari utara hingga selatan. 

Negeri yang gemah ripah kini riuh ingin berpesta, Mengangkat orang-orang yang akan menyambung lidah para hamba kepada penguasa. Negeri ini riuh karena hamba-hambanya mulai sadar dizalimi penguasa, di khianati wakilnya, tak sadar dibuat miskin, tak sadar dibuat lapar ditengah lumbung padi. Penguasa negeri ini ingin berpesta seperti Rakuti yang berpesta setelah mengambil Majapahit dengan paksa. Penguasa mencoba mengambil hati dengan akal bulus nan halus, lebih halus dari sutra lebih menyakitkan dari pada raksa.

Lihatlah Negeri Prahara ini menjelang pesta janji manis bertaburan, senyum manis berkembang, rumah yatim ramai di kunjungi, banyak orang bergreliya menawarkan bantuan atas nama kemanusian. Kuburan ramai di datangi, tempat-tempat keramat menjadi gaduh karena ritual, semoga dedemit tak marah diganggu.Ahh mungkin dedemit takan marah, sebab ia akan semakin banyak teman nanti dineraka bersama penguasa dzalim.

Ini Negeri Prahara yang tak lagi indah dibayangkan. Disini hamba-hamba harus membeli beras dengan harga yang mahal padahal hamba-hambanya pula yang menaman hingga memamen. Hamparan rumput luas terbentang tak lagi penuhi binatang ternak, pagar kawat berduri mengelilingi plang bertulis "TANAH INI MILIK PEMERINTAH, DILARANG MENGGUNAKAN TANPA IZIN", sapi pun tak berani merumput di sana, Akhirnya sapi kekurangan gizi karena hanya makan jerami. Penguasa bijak mengambil kebijakan untuk mendatangkan sapi dari negeri tetangga. Niat baik penguasa dzalim tentulah ada maksud, "lebih baik negeri kaya ini membeli sapi dari pada memelihara sapi, aku terlalu sibuk bergitar mencipta lagu dan menulis buku, tak sempat lagi mengembala sapi," pikir sang penguasa.

Sang Penguasa teramat sibuk dengan urusan perasaan dan sibuk mencurigai, hingga tak sadar darahnya dihisab oleh pembantu-pembantunya yang ternyata Vampir yang harus darah. Hamba terbengkalai, harga pupuk naik, lahan garapan berubah jadi perhotelan, lahan garapan berubah jadi apartemen. Petani tergusur dari ladangnya sendiri, hamba-hamba menjadi bodoh karena tak dididik budi pekerti oleh penguasa, sebab pendidikan hanya untuk anak orang kaya golongan priyayi, orang-orang miskin diajarkan oleh kurikulum yang aburadul dan dibodohi vampir-vampir penguasa. Hamba-hamba dijajah kembali dengan teknologi Eropa yang menghisap sumber daya alam Negeri Prahara, minyak, gas, panas, emas, tembaga, hamba kerja rodi memperkaya orang asing. 

Penguasa lebih memilih berteman dengan bangsa kapitalis yang memberi mereka penghargaan. Penguasa lebih percaya dedemit ketimbang Tuhanya, maka tak heran negeri ini mulai rapuh dan terkikis oleh keserakahan. Tuhan mulai bosan, Digoyangkanlah gunung-gunung yang menyangga langit negeri, Tuhan mulai marah, dikeringkan air yang dahulu mengalir dan kemudian ditumpahkan dengan deras hingga sebagian negeri ini tenggelam dan sebagian lagi kekeringan.

Inilah Negeri Prahara yang tengah berpesta di tengah prahara.  
READMORE