Aku Sedang Mencari Tepi Langit

Sifat manusia beraneka ragam, ada yang menyukai kemewahan dan gemerlap keindahan, ada pula yang tak senang akan hal itu. Ada yang selalu berpenampilan rapi berdasi karena mereka ya memang seperti itu dan ada pula yang apa adanya, tak perlu ribet memikirkan bagaimana penilaian orang karena orang itu berpikir menjadi diri sendiri itu lebih bahagia dari pada menipu diri sendiri.

 

Begitu halnya aku, saat mendapat tugas untuk menuliskan perubahan setelah mengikuti mata kuliah Kecakepan Antar Personal ini aku jujur mengatakan tak ada perubahan yang berarti pada diri ku. Meskipun di wajibkan memakai pakai office look tapi aku tetaplah aku, aku lebih suka celana jins berkantong banyak dan kemeja apa adanya, dasi hanya di kelas saja aku berdasi. Membuat nyaman diri sendiri adalah hal terpenting bagiku dan aku tak mau hidup dalam tekanan birokrasi (membosankan).

 

Banyak teori telah mampir dan berlalu dalam hidup ku, begitu juga di mata kuliah ini. Hampir 90 % aku telah mendengarnya semua, dan aku telah berulang kali mendengarnya dan mendengarnya, hingga bagi ku itu biasa. Tak ada yang mengena ke dalam relung hati paling dalam. Bahkan seorang Mario teguh pun tak mampu menyentuh nurani ku.

 

Perubahan bagi ku bertentangan dengan menjadi diri sendiri. Perubahan tak mutlak melalui materi teori, hidup itu bukan sekedar materi dan teori kawan. Dan hidup itu tak semudah teorinya Mario teguh. Setiap orang memiliki standart hidupnya sendiri, memiliki definisi kebahagian dan kesuksesannya sendiri.

 

Ada orang menghabiskan waktu nya di kedip-kedip lampu diskotik, atau pun di ranjang-ranjang nista. Ada orang yang menghabiskan waktunya di pinggir jalan, bercengkrama dengan polusi bercumbu dengan debu. Ada orang yang hidupnya datar bak meja billiard, nurut aja apa kata tongkat, di sodok ke kanan ngikut, di benturkan dengan bola lainya pasrah aja, terus di jerumuskan ke lubang, glinding aja.

 

Lalu kita orang yang bagai mana?

Terkadang teori kebahagiaan kita tak sama dengan teori orang lain. Aku senang mendaki gunung karena aku senang pada alam, dan aku mendapatkan kebahagiaan itu disana, bercengkrama dengan teman-teman, meskipun makan mie instan. Tapi bagi kaum Hedonis, aku ragu mereka mau satu tenda dan berpeluh-peluh mendaki hanya utuk 1-3 jam di puncak lalu turun lagi.

Yang merubah hidup ku bukanlah teori, tapi pengalaman ku. Orang-orang sekitar yang ku pandang dengan nurani ku amati dengan logika, lalu ku bayangkan mereka itu aku. Aku menghargai diri ku ketika aku melihat orang lain bercumbu dengan debu, berselimut kabut malam mencari penghidupan di tepian jalan, di pinggiran trotoar, di kumuhnya tempat sampah dan mewahnya perhotelan.

 

Maaf pak Dosen yang terhormat, teori anda belum menyentuh nurani ku. Dan belum membuat ku berubah dengan pertemuan yang singkat ini. aku bangga dengan hidup ku sendiri, dengan penampilan ku sendiri, dan aku bahagia dengan cara ku sendiri. Andai aku jadi anda akan ku bawa mahasiswa ke dunia nyatanya, ke pinggiran jalan, ke tipian daratan, dan ke puncak gunung. Akan ku bawa mereka melihat hidup jalanan, melihat kemewahan di atas penderitaan, dan membawa mereka ke tempat yang tak pernah mereka bayangkan. Agar mereka dapat berteori tentang hidup mereka sendiri, dan menemukan kebahagiaan diri mereka sendiri.

 

Oh ya, tentang materi yang ada perumpamaan pendaki gunung itu, dari camper – climber, itu tak mudah pak dosen untuk menjadi climber. Di kelas mereka berpikir dan bersemangat menjadi climber, tapi ketika aku ajak mereka ke gunung yang benar-benar jadi climber dan merasakan kebahagiannya sendiri hanya 5 orang. Teori amat mudah tapi praktik tak semudah yang dikira, ada banyak faktor yang harus di pikirkan, dan bagiku climber bukan tahta tertinggi kepribadian seseorang.


Terimakasih pak Dosen.

Penulis : Tirta Hardi Pranata ~ Tukang coret-coret di blog ini ~

Artikel Aku Sedang Mencari Tepi Langit ini dipublish oleh Tirta Hardi Pranata pada hari Monday, May 14, 2012. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Aku Sedang Mencari Tepi Langit
 

0 komentar:

Post a Comment